Langsung ke konten utama

Cangkang terurai

Terlepas teleponmu saat pagi aku abaikan
Ada takut yang enggan punah
Mawarnya mulai menghitam hingga kering
Entah, mungkin karena dicampakkan


Gumam pikiran berasal dari relungnya
Sepanjang jalan basah bertumpu air
Lama tak terdengar langkah kaki riangnya untuk menemui kasih bersama mawar-mawar 
Aku hanya sebagai objekmu
Aku hanya tertulis sebagai cangkangmu
Aku pula tercekik oleh gumam-gumam itu
Petang tiba, berlalu sudah
Lihat kopinya pekat semu menghitam
Bagai mawar yang tersisih 
Entah, mungkin pula karena dicampakkan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poros

Tempo hari kamu meragukan apa yang kamu ucapkan Menanyakan “kapan bisa pergi ?” Cepat pergi mandi... Merebutkan waktu yang kalau bisa di hentikan Hanya sementara.. Jangan berkhayal kita tidak di dunia fiksi Pada niat ku .. Mulai aku awali dengan janji janji Kamu bilang sore tadi, kapan aku juga bisa minum secangkir kopi kembali  Apa itu janji yang harus ditepati ? Pelik dari 2 jiwa yang teramat asik kegirangan Sebabnya mungkin karna mereka juga rindu Ini Kopi, ayo minum lagi.. Kamu menyebutnya aliran indie Selat Sunda, memang dari peta terlihat dekat Bentangannya terpaut oleh anak krakatau Aku tunggu, hey coba liat janjimu Niat mu membawaku pada tempat yang indah di tanah Sunda  Melepas gundahnya rindu mu pada bulan katanya, aku kira pada diriku. Bukan begitu maksud dirinya bulan itu aku sangat lucu membayangkannya Geli sekali aku rasa.

Luput

Mulutnya riuh, kepalanya teduh. Jauh sebelum terkapar akan keriuhan harapan dan penyesalan. Getar naluri yang dulu amat luluh dan tulus pada pelipur diri ini tidak bergeming lagi, akan kah jiwanya sembuh ? Sesal, terlalu sudi untuk dicengkram yang sudah jauh lagi. Belenggu hidup aku hilangkan, buaian mulut yang riuh aku sembunyikan.