Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label KALIMAT SENDU

Ribuan Nalar

Episode 8 -  Jua, hamba tak memelas di puja. Terbelalak, tanpa disadari secara berlebihan hadir hingga merasa berada di fase yang menantang, satu sudut nampak orang-orang mengakui pengenalan akan pasangan adalah proses seumur hidup.  Padahal luka batinnya mengendap seumur hidup. Aku sibuk berusaha untuk bertahan, kamu sibuk berusaha untuk meninggalkannya.  Entah orang mau berkata apa. Perasaan, rindu, kehilangan dan perlahan-lahan melebur hingga di sudut pandang t anpa rasa resah kembali aku tegakkan prinsip meski merasa kehilangan arah dan tujuan hingga kelelahan mengejar jati diri. Selain segelintir p erumpamaan prinsip yang membingungkan memang aku sadari bagiku ini terlihat menjijikan atau terlihat menarik,  Lebih baik aku menangis daripada membuat orang lain menangis, aku sudah sering terluka tapi aku bangga karna tidak pernah menyakiti orang lain . Setelah dipikir kembali, bukannya tidak pernah menyakiti terkadang diri sendiri tidak menyadari sudah menyakiti at...

Nyonya bisu

Terpaku diantara roda hasrat Segala sesuatu mesti diingat dan kini  bukan saatnya untuk memikirkan ulang kisah antara hidup untuk mengenang sesuatu atau hidup terbebas dari sesuatu itu (suara masalalu). Bertanya dengan perasaan ragu akankah setelah rela memilih merubah kesenangan berjalan satu arah dapat menidurkan mimpi buruk dalam hidupku lalu hidup layaknya terlahir bersih ? Tergagah berlalu sambil menutup telinga, ku ikuti suara waktu tak lama, berlari terlalu cepat jua. Apa pilihannya juga mati agar tak disangka insan yang tak terarah ? bersyukur untuk sabar,  Aku pun belajar sabar untuk membiasakan diri dan memahami sesuatu yang seharusnya aku banggakan dan aku lakukan tentang segala rasa harap, rasa cemas, rasa bersama tanpa ada rasa yang tiba-tiba hilang. jika takdir mengganjal juga terhenti oleh sebuah ikatan hampa, bukan berarti aku yang perlu mencari apa itu, namun siapa yang telah menghilangkan rasa itu. Masalah perasaan tergolong sedang, bukan kah itu pengalihan ?...

Rongak

  Dersik (Mendekap tangan pada tuhan di kesunyian batin) Bercerita tentang seorang wanita yang berjalan dengan tenang, diantara lebatnya dedaunan sepanjang jalan dan derasnya hujan bagai badai. Ada kala hujan yang bersambutan dengan petir, tika hujan bersorak diatas angin menghampiri. Mendung nampak menggerutu Lalu lalang burung-burung menuju persembunyian batang pohon lagu terguyur sampai merunduk, kini dibiarkan saja Sampai-sampai, tiada rumpangnya ia berjalan bersambung angin yang kencang Namun terdengar sorak orang yang berjalan terkesok-kesok (Bagai disembur satu golang air kala ditengah derasnya hujan) Perlukah jawaban dari suara dirinya, mengapa enggan melambaikan jari-jemari untuk meminta sebuah payung atau niat berteduh ? Nyatanya ia berupaya menengadahkan tangan tuk berdoa dalam tenang Membisikkan harapannya pada tuhan “....tuhan dengarlah ampunan dosaku gantilah dengan doaku, sebagaimana aku menginginkan harapan yang amat banyak sederas hujan yang bersambut gemerlap peti...

Agustus bermula

Sebuah kisah atau bisikan awal cerita setiap ketetapan kataku Dalam  susunan cerita ini mulai ku ceritakan sedemikian rupa, kalau berantakan nanti aku rapihkan. handal atau pandai sebuah kemampuan yang mungkin saat ini hingga nanti harus di miliki, namun kini aku sendiri lebih memilih untuk berbisik karena lebih mudah. orang lainpun mungkin memilih hal yang sama. sekalipun pelan nadanya papan ini juga tau aku bercerita secara jelas. ketetapan seperti ciri khas kata, bukan membual namun bisa di sebut terapan juga.  bermula hari ini juga kutetapkan harapanku lebih panjang, seperti intuisi juga.  salam pada hari esok, aku ingin berbisik kisah mimpi nyata dan kehidupan fana yang lebih panjang.

Sejauh putaran jarum jam

Gelap dengar   berkali-kali tetap mau menunggu, memang sudah dijanjikan untuk bertemu Seperti apa sebuah takdir ? Sampai tiba di hari akan beranjak pergi untuk menemui kasihnya Seketika merasa janggal dengan pandangannya, mungkin juga perasaannya  Terlihat satu lembar kertas yang di sobek Seharusnya memang telah pergi Lantas dirinya mengira ini kejutan penuh ucapan manis. “...Kau telah menemaniku, mau mempercayai ucapanku dan semua yang telah aku janjikan. Cukup untukmu yang merasa bahagia, walau aku tahu sejatinya ada satu harapan yang tidak tertinggal seperti yang menginginkan untuk menjadi satu hati, kasih. Lebih dari itu tak mau aku memaksakan kehendak, takdir tahu dan aku percaya itu. Boleh kau menunggu ku kembali sampai waktu, takdir, dan doa mu terdengar tuhan, tidak tahu entah kapan itu. abadi lah kebahagiaanmu.” Ada gerimis datang saat sebelum aku membacanya, Telak tidak terbayangkan rasa pilu dari kalimat sendu itu Terganti oleh hujan abadi kala ini, dan Ratap sudah ...