Langsung ke konten utama

Poros


Tempo hari kamu meragukan apa yang kamu ucapkan

Menanyakan “kapan bisa pergi ?”


Cepat pergi mandi...

Merebutkan waktu yang kalau bisa di hentikan

Hanya sementara..

Jangan berkhayal kita tidak di dunia fiksi


Pada niat ku ..

Mulai aku awali dengan janji janji

Kamu bilang sore tadi, kapan aku juga bisa minum secangkir kopi kembali 


Apa itu janji yang harus ditepati ?

Pelik dari 2 jiwa yang teramat asik kegirangan

Sebabnya mungkin karna mereka juga rindu


Ini Kopi, ayo minum lagi..

Kamu menyebutnya aliran indie

Selat Sunda, memang dari peta terlihat dekat

Bentangannya terpaut oleh anak krakatau


Aku tunggu, hey coba liat janjimu

Niat mu membawaku pada tempat yang indah di tanah Sunda 

Melepas gundahnya rindu mu pada bulan katanya, aku kira pada diriku.


Bukan begitu maksud dirinya bulan itu aku

sangat lucu membayangkannya

Geli sekali aku rasa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luput

Mulutnya riuh, kepalanya teduh. Jauh sebelum terkapar akan keriuhan harapan dan penyesalan. Getar naluri yang dulu amat luluh dan tulus pada pelipur diri ini tidak bergeming lagi, akan kah jiwanya sembuh ? Sesal, terlalu sudi untuk dicengkram yang sudah jauh lagi. Belenggu hidup aku hilangkan, buaian mulut yang riuh aku sembunyikan.

Cangkang terurai

Terlepas teleponmu saat pagi aku abaikan Ada takut yang enggan punah Mawarnya mulai menghitam hingga kering Entah, mungkin karena dicampakkan Gumam pikiran berasal dari relungnya Sepanjang jalan basah bertumpu air Lama tak terdengar langkah kaki riangnya untuk menemui kasih bersama mawar-mawar  Aku hanya sebagai objekmu Aku hanya tertulis sebagai cangkangmu Aku pula tercekik oleh gumam-gumam itu Petang tiba, berlalu sudah Lihat kopinya pekat semu menghitam Bagai mawar yang tersisih  Entah, mungkin pula karena dicampakkan