Langsung ke konten utama

Angan Berjatuhan

Untuk teman selekat layaknya saudara, yang masih selalu ada disetiap cerita serta tentang waktunya yang aku rasa dan kamu rasa juga dalam keadaan apapun. 

Terimakasih untuk apapun yang sudah kamu lakukan untuk aku. 

Terimakasih untuk menyempatkan waktu mendengar setiap kisah sedih walaupun kadang sesaat. menjadikan tempat menyimpan rasa kesah, kepercayaan, sampai disaat sama-sama merasa di titik terendah.

Sempat merasa sedih meski tidak berdekatan, semuanya masalah waktu dan jarak saja. namun kali ini yang paling aku hargai yaitu bisa mengerti.

Barangkali apa yang telah datang pekan hari, hingga hari ini karena memahami bentuk kasih perlu pemahaman waktu. Walaupun jauh, walaupun jatuh, bahkan andaikan bukit menjulang hingga kelangit dan samudra meluas tanpa batas. 

Jika aku ataupun dia harus datang dengan merangkak dan berenang maka akan tetap datang.

Begitulah tuhan bercerita melalui takdir yang tulus untuk hamba-Nya yang selalu mengasihi dan memberi ucap meski sekejap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poros

Tempo hari kamu meragukan apa yang kamu ucapkan Menanyakan “kapan bisa pergi ?” Cepat pergi mandi... Merebutkan waktu yang kalau bisa di hentikan Hanya sementara.. Jangan berkhayal kita tidak di dunia fiksi Pada niat ku .. Mulai aku awali dengan janji janji Kamu bilang sore tadi, kapan aku juga bisa minum secangkir kopi kembali  Apa itu janji yang harus ditepati ? Pelik dari 2 jiwa yang teramat asik kegirangan Sebabnya mungkin karna mereka juga rindu Ini Kopi, ayo minum lagi.. Kamu menyebutnya aliran indie Selat Sunda, memang dari peta terlihat dekat Bentangannya terpaut oleh anak krakatau Aku tunggu, hey coba liat janjimu Niat mu membawaku pada tempat yang indah di tanah Sunda  Melepas gundahnya rindu mu pada bulan katanya, aku kira pada diriku. Bukan begitu maksud dirinya bulan itu aku sangat lucu membayangkannya Geli sekali aku rasa.

Luput

Mulutnya riuh, kepalanya teduh. Jauh sebelum terkapar akan keriuhan harapan dan penyesalan. Getar naluri yang dulu amat luluh dan tulus pada pelipur diri ini tidak bergeming lagi, akan kah jiwanya sembuh ? Sesal, terlalu sudi untuk dicengkram yang sudah jauh lagi. Belenggu hidup aku hilangkan, buaian mulut yang riuh aku sembunyikan.

Cangkang terurai

Terlepas teleponmu saat pagi aku abaikan Ada takut yang enggan punah Mawarnya mulai menghitam hingga kering Entah, mungkin karena dicampakkan Gumam pikiran berasal dari relungnya Sepanjang jalan basah bertumpu air Lama tak terdengar langkah kaki riangnya untuk menemui kasih bersama mawar-mawar  Aku hanya sebagai objekmu Aku hanya tertulis sebagai cangkangmu Aku pula tercekik oleh gumam-gumam itu Petang tiba, berlalu sudah Lihat kopinya pekat semu menghitam Bagai mawar yang tersisih  Entah, mungkin pula karena dicampakkan